Rambu Solo, Cara Toraja Hormati Jasa Orangtua

Rambu Solo | Dawainusa.com

Epicentrum – Upacara Rambu Solo di Toraja merupakan upacara adat kematian masyarakat Tora Toraja untuk menghormati dan menghantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh. Juga untuk membawa kepada keabadian bersama para leluhur sampai di tempat peristirahatan terakhir.

Upacara Rambu Solo ini juga dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan cinta kepada orangtua. Orangtua yang telah membesarkan anak-anak dan mendoakan akan kesuksesannya di tanah rantau.

Hal itu diutarakan oleh Bupati Toraja Utara, Kalatiku Paembonan, kepada AKURAT.CO saat ditemui di kantor Kementrian Pariwisata, Jakarta, beberapa waktu lalu.

“Kami punya upacara Rambu Solo. Itu upacara penghormatan leluhur atau kepada orangtua sebagai (bentuk) kecintaan dan kasih sayang. Kita selama dibesarkan sudah dinyanyikan (diingatkan) kamu akan besar ya harus rajin belajar,” ujarnya.

Oleh sebab itu, sambung Paembonan, melihat celah bahwa upacara ini dapat sudah menjadi tujuan wisatawan dan akan terus dikembangkan. Bila dikelola dengan baik, ia meyakini, upacara ini tepat jika dijadikan sebagai paket wisata, bukan satu hal yang berlebihan.

“Ini nantinya tidak berlebihan, ini bisa menghasilkan uang. Justru acara itu kemudian kita mengirimkan pariwisata bagaimana ini lebih dikembangkan,” tambahnya.

Biasanya, upacara pemakaman ini dilakukan setelah berminggu-minggu, bulan atau tahun sejak kematian. Tujuannya agar keluarga dapat mengumpulkan uang yang cukup untuk biaya pesta pemakaman ini.

Dalam masa penantian, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah Tongkonan, rumah adat Toraja, dengan kepercayaan bahwa arwah orang mati tetap tinggal di desanya sampai upacara pemakaman selesai.

Arwah dipercaya akan melakukan perjalanan ke Puya. Puncak dari upacara Rambu Solo ini digelar di lapangan khusus yang pilihan warga.[Akurat]

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *