KPPPA: Anak Genius Butuh Komitmen Negara Dan Orang Tua

Epicentrum.id – Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mengangkat tema ‘Anak Indonesia, Anak GENIUS (Gesit-Empati-Berani-Unggul-Sehat)’ dalam peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2018. Koalisi Perempuan Indonesia menilai hal ini akan sulit terwujud jika tak ada komitmen negara dan orang tua.

Ada empat masalah yang menjadi sorotan Koalisi Perempuan Indonesia, di antaranya rendahnya akses anak melanjutkan pendidikan ke tingkat sekolah menengah pertama (SMP), rendahnya status gizi anak, masih terjadinya praktek perkawinan anak dan kekerasan terhadap anak. Hal ini lah yang harus diselesaikan bersama guna mewujudkan Anak Genius.

Berdasarkam data pusat pendidikan di Indonesia diketahui bahwa jumlah sekolah dasar (SD) sepertiga lebih banyak dari SMP. Di mana jumlah gedung SD yang tersebar di Indonesia ada sekitar 147 ribu sedangkan jumlah gedung SMP hanya 36 ribu saja. Bukan hanya jumlah sekolah yang tidak sebanding, faktor ekonomi juga menjadi penyebab banyaknya anak yang tidak bisa mengenyam pendidikan.

Hal ini lah yang menjadi salah satu rintangan yang harus dihadapi pemerintah. Sebagian dari anak yang tidak sekolah, umumnya berujung dengan dinikahkan dalam usia anak.

“Jadi sebagian orang tua memilih mengawinkan anaknya karena sekolah ga, kerja ga, jadi ya gitu. Ternyata alasannya dari pada anaknya tidak memiliki pekerjaan apa-apa, nganggur dan nantinya menimbulkan prasangka,” ujar Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia Dian Kartikasari, di Bakoel Koffie, Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (22/7/2018).

Padahal ketika anak nikah dalam usia muda seperti ini tidak menyelesaikan masalah. Menurut Dian, ketika perkawinan anak terjadi, maka akan banyak hal yang terjadi. Salah satunya adalah gizi anak. Di mana hasil data pemantauan status gizi (PSG) 2017 di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten/Kota menunjukkan sebanyak 3,8 persen balita dengan gizi buruk, 14 persen kurang gizi, 29,6 persen stunting (pendek), dan 9,5 persen wasting (kurus).

Sementara itu stunting pada usia 12-18 tahun berkisar 35,5 persen dan wasting 4,7 persen. Menurut Dian, buruknya gizi pada anak ini juga salah satu penyebab dari adanya praktek perkawinan anak.

“Persoalan gizi bukan semata-mata persoalan daya beli masyarakat terhadap pangan saja, melainkan juga dipengaruhi faktor lain. Di antaranya faktor pengetahuan orang tua tentang gizi, prioritas alokasi dana rumah tangga, dan pola pengasuhan. Selain itu, tinggi kurangnya gizi pada balita dan remaja juga disumbang oleh adanya tradisi perkawinan anak,” imbuhnya.

Tidak hanya tiga persoalan di atas saja, kata Dian, masalah kekerasan terhadap anak juga masih kerap terjadi. “Anak Indonesia masih belum dapat menikmati hak atas rasa aman, baik di ruang publik, sekolah maupun di dalam rumahnya sendiri.”

Atas dasar permasalahan tersebut, Dian berharap agar pemerintah dan orang tua dapat berkomitmen serta bekerja sama untuk mewujudkan Anak Indonesia Genius. Ia pun memberikan masukan kepada pemerintah maupun orang tua dalam menyikapi situasi anak Indonesia sekarang ini.

Untuk Pemerintah di antaranya dengan:

  1. Melakukan terobosan kebijakan dan tindakan administratif untuk secepatnya menambah jumlah sekolah jenjang SMP, dengan menggunakan gedung-gedung sekolah SD dan sekolah SMP dan menambah jumlah tenaga pengajar. Agar seluruh anak yang lulus SD dapat melanjutkan pendidikannya.
  2. Menyelenggarakan program untuk percepatan penanganan masalah gizi di Indonesia.
  3. Membuat kebijakan dan program untuk menghentukan perkawinan anak.
  4. Memperkuat kelembagaan dan kapasitas sumber daya manusia serta fasilitas/sarana dan penegakan hukum untuk penanggulangan kekerasan terhadap anak.

Sementara itu untuk orang tua, Dian berharap agar orang tua dapat meningkatkan komitmen untuk memenuhi hak pangan dan pendidikan anak melalui upaya meningkatkan pengetahuan, memprioritaskab anggaran rumah tangga untuk pemenuhan gizi dan pendidikan.

“Memprioritaskan kesehatan dan pendidikan anak, apapun alasannya sehingga itu akan memperbaiki generasi selanjutnya. Jadi mengutamakan pendidikan dan gizi itu semestinya yang jadi prioritas orang tua,” tambahnya.

Selanjutnya, kata Dian agar orang tua dapat memperbaiki pola pengasuhan dan mewujudkan pengasuhan tanpa kekerasab, serta memenuhi hak tumbuh dan berkembang, maupun hak partisipasi anak. Dan yang terakhir; menghentikan praktek perkawinan anak di bawah 18 tahun. [Sumber]

 

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *