Perilaku Politisi Jadi Faktor Maraknya Ujaran Kebencian di Medsos

Epicentrim.id – Soiolog dari Universitas Indonesia Devie Rahmawati menyebut fenomena ujaran kebencian yang belakangan semakin meningkat di media sosial sebagai bencana sosial. Menurutnya hal itu terjadi lantaran meningkatnya kontelasi politik di Indonesia.

“Ini ditengarai akibat kontestasi politik. Di Amerika Serikat (AS) peningkatannya pun terjadi ketika selepas event politik pilpres mereka. Di kita ini mengalami peningkatan besar terutama yang terakhir adalah Pilkada DKI Jakarta,” kata Devie, Senin (17/6/2018).

Devie mengatakan, ujaran kebencian didorong oleh perilaku politisi yang kerap mendorong masyarakat untuk menyebarkan kebencian di media sosial. Menurutnya, masyarakat Indonesia cenderung meneladani tokoh-tokoh yang dianggap hebat, sehingga menilai jadi hal biasa untuk ditiru,

“Ada satu benang merah bahwa politik dimana hadirnya politisi itu yang kemudian membakar atau memberi bahan bakar letupan-letupan hate speech yang terjadi di masyarakat,” tuturnya.

“Ketika mereka dihadapkan sendiri bagaimana justru orang tersebut di sosmed saling melempar ucapan, ini membuat masyarakat juga melihat bahwa hal tersebut adalah hal yang lumrah,” tambah Devie.

Untuk itu kata dia, bukan hanya masyarakat yang perlu diberikan edukasi terkait literasi media digital, melainkan juga para elite politik yang kerap melontarkan wacana di media sosial. Apalagi media sosial adalah tempat yang efisien dan sangat ampuh untuk mempengaruhi seseorang.

“Jadi yang perlu diberikan perhatian khusus adalah perilaku elite-elite politik yang seharusnya menjadi contoh untuk bisa memberikan sosialisasi atau dukungan terhadap calon politiknya secara positif tidak menyebarkan berita yang belum diketahui kebenarannya,” ungkapnya.

Ia menjelasakan, ada beberapa faktor kenapa orang mudah mempercayai hoaks dan ujaran kebencian. Pertama, di era modern seperti saat ini, masyarakat diterpa dengan begitu banyak informasi sehingga tidak memiliki waktu untuk melakukan verifikasi.

“Semangat alamiah natural manusia yang selalu ingin menjadi yang terdepan dalam mengabarkan banyak hal, itu yang membuat orang kemudian tidak lagi untuk tidak melakukan konfirmasi. Ketika dia merasa ada info menarik tanpa diketahui bener atau enggak itu akan mudah disebarkan,” paparnya.

“Ini bukan masalah masyarakat cerdas atau tidak bahwa negara sebesar AS pun sedang mengalami kepanikan sosial yang sulit mengontrol berita yang bisa di verifikasi kebenarannya,” tutup Devie. [Sumber]

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *