Titik Panas Mulai Muncul di Kalteng

ilustrasi kebakaran hutan (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)

epicentrum.id – Kalimantan Tengah saat ini telah memasuki musim kemarau sesuai prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) hingga Oktober 2018 mendatang. Dampak musim kemarau itu bisa segera dilihat dengan munculnya sejumlah titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah kabupaten/kota di Kalteng dalam beberapa hari terakhir ini.

Prakirawan BMKG Palangka Raya Chandra Mukti kemarin menjelaskan munculnya titik panas karena hujan yang tidak turun hampir sepekan di seluruh wilayah Kalteng. “Pada hari ini ada sekitar 18 titik panas yang ditemukan di 5 kabupaten di Kapuas 10 titik, Lamandau (3),  Kotawaringin Timur, Seruyan masing-masing 2 titik dan Barito Selatan 1 titik panas.

Pada kemarin dikemukakan terjadi penambahan satu titik panas. Musim kemarau tahun ini juga diprediksi lebih kering dibanding 2016 dan 2017 sehingga tingkat potensi terbakarnya lahan juga diperkirakan semakin mudah dibanding tahun sebelumnya. “Tapi kita tidak ingin kejadian 2015 yang merupakan kebakaran lahan terburuk terulang kembali karena sangat mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan seluruh masyarakat Kalteng,” kata Chandra.

Untuk itu BMKG meminta agar semua pihak terkait termasuk masyarakat bergandengan tangan, bersinergi melakukan langkah pencegahan dan mitigasi bahaya kebakaran hutan dan lahan. “Kita akan saling mengingatkan untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Dan apabila terdapat kebakaran, pada saat apinya  masih kecil, selekas mungkin dipadamkan,” imbuhnya.

Dari Provinsi Bangka Belitung dilaporkan hotspot juga mulai bermunculan di sejumlah wilayah. Staf Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika kelas 1 Pangkalpinang, Slamet Supriyadi mengatakan cuaca di Babel saat ini panas dengan suhu 32-33 derajat. “Titik panas tersebut diduga dari kebakaran hutan atau lahan di daerah itu,” ujarnya.

Panasnya suhu itu, menurut Slamet, rentan sekali memicu kebakaran hutan dan lahan, seperti pada Sabtu (14/7) tiga titik panas terdeteksi yakni di Bangka 2 titik dan Bangka Selatan 1 titik. “Di Bangka titik panas terdeteksi di Puding Besar sedangkan di Bangka Selatan tepatnya di Simpang Rimba,” kata Slamet.

BMKG menurutnya akan terus mengeluarkan imbauan agar masyarakat yang tinggal di daerah rawan kebakaran hutan atau lahan waspada. “Jangan buang putung rokok sembarangan, jangan buka lahan dengan membakar, ingat cuaca sekarang ini rentan terjadinya kebakaran  hutan,” tegas dia.

Erupsi Gunung Agung
Kewaspadaan menghadapi bencana alam memang perlu terus ditingkatkan. Dari Karangasem, Bali terdata jumlah pengungsi yang masih bertahan di posko penampungan pengungsi kemarin sebanyak 1.614 jiwa. Mereka tersebar di 51 titik posko di empat kecamatan, yakni Rendang, Selat, Bebandem dan Manggis.

Kepala BPBD Karangasem, Ida Bagus Ketut Arimbawa mengatakan jumlah pengungsi sifatnya dinamis tergantung perkembangan aktivitas Gunung Agung yang juga fluktuatif. “Data pengungsi sewaktu-waktu berubah tergantung perkembangan aktivitas Gunung Agung,” ujar Arimbawa, Minggu (15/7)

Arimbawa menyebutkan semua pengungsi tersebut berasal dari daerah di luar zona rawan bahaya yang ditentukan PVMBG yakni radius 4 kilometer dari kawah gunung yang saat ini masih berstatus siaga (level III). Mereka rata-rata masih tidak nyaman serta trauma atas kejadian erupsi sebelumnya.

sumber berita

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *