Antara Ronaldo Dan Loncatan Saham Juventus Di Bursa

Epicentrum.id, Jakarta – Selasa, 10 Juli lalu, jadi hari yang istimewa bagi Juventus. Megabintang sepakbola Cristiano Ronaldo resmi merapat Klub Juventus. Butuh mahar €100 juta dari Juventus untuk mendapatkan penyerang Portugal ini dari Real Madrid. Pemain berusia 33 tahun itu dikontrak selama empat musim, atau sampai dengan 30 Juni 2022.

“Transfer senilai €100 juta dibayarkan dalam 2 tahun. Selain itu, kontribusi solidaritas sesuai peraturan FIFA dan biaya tambahan sebesar €12 juta,” demikian pernyataan Juventus dalam situs resmi club.

Kabar transfer megabintang itu pun langsung menjadi sorotan media. Berita seputar Ronaldo meluncur deras dalam sepekan, dari luar maupun dari dalam negeri. Media sosial pun tidak kalah ramai membicarakan transfer Ronaldo. Transfer Ronaldo telah membuat harga saham Juventus melejit sejak awal Juli.

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham Juventus pada perdagangan Jumat (13/7) tercatat senilai €0,8 per saham. Angka itu naik 19,4 persen dari harga saham sebesar €0,67 per saham pada perdagangan Senin (2/7).

Sepakbola adalah olahraga yang paling populer di dunia. Klub seperti Manchester United, Real Madrid, dan Juventus menjadi salah satu contoh klub raksasa dengan pendanaan maha besar. Sepakbola tidak lagi sekadar ajang kompetisi olahraga, tapi sudah menjadi salah satu industri. Nilai uang yang berputar pun sudah lebih dari jutaan dolar.

Para konglomerat dunia memilih untuk berinvestasi di klub sepakbola. Klub-klub sepakbola yang juga pede untuk melantai di bursa efek, atau mencatatkan saham perdananya demi memperkuat modalnya.

Contoh klub yang sudah melantai di bursa efek antara lain Manchester United di New York Stock Exchange. Ada juga Arsenal dan Celtic di London Stock Exchange. Di Italia, ada AS Roma, S.S Lazio, dan Juventus yang tercatat Italia Borsa Italiana.

Bagaimana kinerja saham-saham klub sepakbola dalam setahun terakhir ini?

Berdasarkan data dari Bloomberg, rata-rata kinerja saham klub-klub sepakbola mencatatkan kinerja yang positif. Dari 12 klub, hanya empat klub yang mencatatkan performa negatif. Keempat klub itu antara lain Borussia Dortmund dengan kinerja saham turun 3 persen. Saham Besiktas melorot 46 persen, Galatasaray anjlok 28 persen, dan Fenerbahce tergerus 22 persen.

Sementara itu, klub yang mencatatkan pergerakan positif antara lain AS Roma dengan saham yang naik 14 persen. Juga S.S Lazio melejit 161 persen, Manchester United naik 31 persen, Juventus naik 44 persen, dan Ajax naik 11 persen selama setahun terakhir. Selain itu, Olympique Lyonnais naik 3 persen, Arsenal melompat 73 persen dan Celtic naik 28 persen. Kendati demikian, tidak seperti saham lainnya, kenaikan saham Arsenal dan Celtic cenderung kurang volatile alias stagnan.

Seperti emiten biasa lainnya, naik turunnya saham suatu emiten pasti dipengaruhi sejumlah sentimen. Jika terkena sentimen negatif, saham biasanya menurun. Sebaliknya, pergerakan saham naik apabila terdapat sentimen positif. Hal yang sama juga dirasakan emiten dari klub sepakbola. Salah satu sentimen yang menjadi pendorong saham klub sepakbola adalah hasil pertandingan. Jika menang, saham cenderung meningkat. Sebaliknya, saham melorot apabila suatu klub kalah dalam pertandingan.

Hasil studi magister dari Tilburg University, Belanda, yang berjudul How do stocks of listed football clubs react to the sportily performance of these football clubs? (PDF)karya Frank van Gills menyebutkan kemenangan klub bisa mengangkat saham hingga 0,48 persen.

“Sedangkan, seri dan kalah membuat saham klub melorot masing-masing 0,59 persen dan 1,02 persen. Dengan kata lain, penalti yang diterima klub ketika seri atau kalah itu lebih besar ketimbang menang,” sebut Frank.

Studi yang dilakukan Frank ini untuk mencari tahu hubungan antara hasil pertandingan dengan harga saham klub sepakbola. Dalam studi tersebut, Frank memasukkan sampel 30 klub dan memantau 10.915 pertandingan.

Selain dari hasil pertandingan, pergerakan saham klub sepakbola juga dipengaruhi pembelian pemain. Kepindahan Ronaldo dari Real Madrid ke Juventus adalah salah satu contohnya, saham Juventus melesat hingga 19 persen.

Bagi Juventus, memboyong Ronaldo dari Madrid ke Turin adalah bagian dari upaya Nyonya Tua—julukan Juventus—mengejar obsesi sebagai juara Liga Champions. Namun, tidak bisa dipungkiri, Ronaldo juga berpotensi memperkuat bisnis Juventus.

Mantan penggawa Manchester United 2003-2009 ini adalah sosok yang sangat terkenal di dunia. Ia memiliki jutaan penggemar di seluruh dunia. Di media sosial, ia juga punya banyak fans, yakni sekitar 318,3 juta follower. Para penggemar Ronaldo ini menjadi pasar yang sangat besar bagi Juventus dan sponsornya untuk mendulang pendapatan.

“Ronaldo adalah ‘impian marketer’ yang menginginkan pundi-pundi pendapatan masuk ke Juventus melalui sponsorship, hak siar, hingga stadium penuh,” kata Robert Wilson, Dosen Manajamen Bisnis Olahraga dari Sheffield Hallam University dikutip dari Bloomberg.

Selain faktor pemain, sosok pelatih anyar juga bisa mengerek harga saham klub sepakbola. Salah satu contohnya adalah ketika ada kabar Manchester United bakal merekrut Jose Mourinho, pelatih kontroversial berumur 55 tahun asal Portugal. Pada perdagangan pagi 23 Mei 2016, harga saham Manchester United sempat menanjak 2,4 persen, sebelum ditutup di harga US$16,65 per saham, atau naik 1,71 persen dari perdagangan sehari sebelumnya sebesar US$16,37 per saham.

Hal utama lainnya yang juga penting untuk disimak investor adalah soal laporan keuangan emiten klub sepakbola. Umumnya, harga saham yang meningkat sejalan dengan kinerja keuangan yang tumbuh positif.

Manchester United misalnya, sepanjang 2017 Setan Merah berhasil meraup pendapatan sebesar £581,2 juta (PDF). Dari total pendapatan tersebut, klub meraup profit £39,17 juta atau naik 8 persen dari £36,37 juta. Sahamnya pun melonjak 31 persen.

Contoh lainnya adalah Besiktas, klub asal Turki ini meraup pendapatan senilai 583 juta try (mata uang lira Turki) sepanjang 2017. Sayang, beban yang terlampau tinggi membuat laba setelah pajak Besiktas minus 108 juta try. Imbasnya, saham menurun 46 persen.

Naik turunnya saham klub tidak hanya bergantung dari pemain atau pelatih yang dikontrak. Kestabilan kinerja keuangan juga menjadi kunci fundamental nilai saham klub yang bergerak positif. Sentimen pemain bintang atau pelatih papan atas hanya riak sementara di luar aspek fundamental. ***

 

sumber

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *