Cari Tumpangan ke Bandung Jadi Lebih Mudah dan Murah lewat Aplikasi Noompang

Epicentrum.id – Indonesia merupakan negara dengan jumlah kendaraan roda empat terbanyak di Asia Tenggara. Berdasarkan data Korlantas Mabes Polri di tahun 2016, terdapat lebih dari 3,67 juta mobil pribadi di kawasan Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi saja. Sedangkan untuk seluruh Indonesia sendiri, jumlah kendaraan roda empat pada tahun 2015 lalu sudah mencapai 13,5 juta mobil, dan dipastikan bakal terus bertambah setiap tahunnya.

Meskipun berjumlah banyak, bukan berarti moda transportasi roda empat ini bisa diakses dengan mudah oleh sebagian dari 261 juta jiwa penduduk negara ini. Hal inilah yang sempat dirasakan oleh Founder Noompang Mirsa Sadikin ketika menempuh pendidikan di Bandung beberapa tahun silam.

Karena tak memiliki cukup biaya untuk pulang pergi Jakarta-Bandung setiap minggu, Mirsa yang saat itu sering menumpang temannya untuk memenuhi kebutuhan transportasi antarkota merasakan betul manfaat ride sharing bagi pihak-pihak yang memiliki keterbatasan.

Berangkat dari pengalaman tersebut, Mirsa bersama ketiga koleganya lantas mencoba memenuhi kebutuhan layanan ride sharing, dengan mendiringkan startup bernama Noompang. Nama startup yang ia dirikan berasal dari kata numpang yang berarti ikut serta dalam suatu kegiatan.

Dengan harapan membantu pihak lain yang juga mengalami situasi sama dengan dirinya saat berkuliah dulu. Noompang hadir di tahun 2017 sebagai solusi alternatif transportasi modern di tengah maraknya penggunaan layanan ride hailing di sekitar.

Noompang tawarkan biaya yang jauh lebih ekonomis

Mirsa menjelaskan bahwa Noompang hadir untuk memberikan akses transportasi lewat pembagian kursi kosong kepada pengguna lain dengan imbalan biaya transportasi. Dengan menggunakan Noompang, ia mengklaim biaya yang dikeluarkan oleh pengguna jauh lebih murah dibanding pilihan transportasi lainnya.

Sejauh ini, rata-rata biaya perjalanan yang ditawarkan pengguna di platform Noompang bisa mencapai Rp50.000 untuk rute Jakarta-Bandung, di mana tarif transportasi umumnya menghabiskan dua kali lipat (bahkan lebih) dari biaya tersebut.

Di Noompang, pengguna bisa berperan sebagai yang memberi tumpangan dan sebagai yang menumpang, tergantung pada kebutuhan masing-masing. Guna memfasilitasi perjalanan dari titik A ke titik B, penyedia tumpangan bisa mengatur jadwal perjalanan, titik keberangkatan dan tujuan, serta berapa banyak jumlah kursi yang tersedia di dalamnya.

Untuk pihak pencari tumpangan, mereka bisa melakukan pencarian ketersediaan jadwal yang telah disediakan. Apabila ada yang cocok, mereka bisa langsung menumpang.

Prioritaskan konsep sharing-economy

Keberadaan layanan ride sharing bukanlah hal baru di Indonesia. Namun untuk memastikan agar layanan transportasi tersebut bisa menjangkau kepercayaan konsumen, diperlukan sebuah sistem keamanan yang bisa memastikan keselamatan penumpang dan pemberi tumpangan yang belum mengenal satu sama lain.

Untuk itu, Noompang menawarkan fitur Rate and Review sebagai salah satu upaya dalam menghadirkan komunitas pengguna yang terpercaya. Lewat fitur itu, pengguna dapat memberikan penilaian ke masing-masing pihak. Para pengguna lain bisa menilai orang tersebut dari pengalaman orang-orang sebelumnya. Selain itu, sebelum perjalanan, pengemudi juga bisa menghubungi penumpang melalui nomor telepon yang terdaftar, begitu sebaliknya.

Konsep layanan ride sharing yang ditawarkan Noompang bukan sesuatu yang baru di Indonesia. Sebelumnya ada juga startup lain seperti TemanJalan dan Nebengers yang lebih dahulu hadir menawarkan konsep serupa, namun dengan kelebihan masing-masing (seperti fungsi percakapan secara real time, dan lainnya).

Noompang saat ini masih beroperasi dengan memanfaatkan modal pribadi (bootstrapping) dari masing-masing founder. Dalam mendirikan Noompang, Mirsa menekankan bahwa pihaknya berniat untuk fokus menjalankan startup ini sesuai dengan tujuan awal, yaitu membuat ekosistem yang efektif bagi kalangan masyarakat melalui sharing-economy.

Untuk itu pihaknya akan terus mengupayakan ketersediaan rute yang lebih banyak, sekaligus memasarkan penggunaannya ke kalangan komunitas, terutama dari golongan mahasiswa. [Sumber]

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *