Implementasi “Making Indonesia 4.0” Sebagai Percepatan Target Negara Dengan Perekonomian Terbesar Tahun 2030

airlangga hartarto

Epicentrum.id – Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden RI Joko Widodo, telah menetapkan target terkait masuknya Indonesia dalam jajaran 10 negara dengan perekonomian terbesar di dunia pada tahun 2030.

Hal ini pun telah dirasa sesuai dengan salah satu aspirasi nasional yang terdapat pada peta jalan Making Indonesia 4.0 yang digagas oleh Airlangga Hartarto sebagai strategi mengimplementasikan revolusi industri generasi keempat.

Sebagai salah satu penggagas dan pencetus rumusan roadmap Making Indonesia 4.0, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto berdiri di garda terdepan guna mengawal konsepsi tersebut.

Airlangga Hartarto yang terkenal piawai dalam melakukan terobosan industrialisasi modern di Indonesia menyebut bahwa, gagasan Making Indonesia 4.0 perlu sinergi berbagai pihak agar dapat terwujud sesuai dengan target yang ditetapkan

Pada 4 April lalu, menurut Airlangga Hartarto. Bapak Presiden Jokowi telah me-launching roadmap tersebut. Ini sekaligus menjadi agenda nasional yang perlu dijalankan secara bersinergi.

Kementrian Perindustrian sebagai salah satu leading sector pun akan secara aktif melakukan kolaborasi juga elaborasi gagasan dengan kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, serta pelaku industri untuk melaksanakan bersama program strategis ini.

Jika sudah tersusun komunikasi yang kolaboratif sesuai tugas dan fungsi masing-masing, maka Airlangga Hartarto juga Kementrian Perindustrian RI meyakini, tujuan agar Indonesia menjadi negara yang maju dalam bidang perekonomian khususnya akan tercapai.

Airlangga menjelaskan terkait upaya yang dilakukannya dalam usaha mewujudkan target Indonesia menjadi 10 besar negara ekonomi terbaik dunia tidak cukup jika hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi semata. Bagi Airlangga Hartarto, diperlukan sektor-sektor penopang perekonomian yang kuat untuk dapat mewujudkan hal tersebut, sektor industri salah satunya.

Guna merealisasikan hal tersebut, Airlangga Hartarto mengatakan memang tidak cukup dengan mengandalkan pertumbuhan ekonomi secara organik, namun diperlukan terobosan di bidang industri dengan memanfaatkan perkembangan teknologi terkini.

Adapun, disebutkan Airlangga, terdapat 5 teknologi utama yg menjadi penopang industrialisasi dalam roadmap Making Indonesia 4.0, ke-5 hal tersebut : Internet of Things, Artificial Intelligence, Human–Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing.

Untuk negara barat, teknologi maju yang sedang dikembangkan sudah masuk pada fase penciptaan artificial intelegence atau intelegensia buatan. Penerapannya pun dilakukan dalam berbagai bidang yang ada, seperti kesehatan, industri, perbankan dan lainnya.

Untuk tahun 2015-2017 University of Columbia di Amerika dan Oxford University bahkan menerapkan artificial intelegence untuk keperluan riset astronomi dan geologi.

Kini bersama Airlangga Hartarto, Indonesia berusaha menuju kesana, dirinya meyakini, teknologi merupakan kunci dari substansi kemajuan Penguasaan teknologi menjadi kunci penentu daya saingnya, tegas Airlangga Hartarto.

Sebagai konseptor Making Indonesia 4.0, Airlangga Hartarto menyatakan, revolusi industri 4.0 akan merevitalisasi alur produksi industri konvensional dengan cara yang tidak biasa.

Meskipun begitu, implikasi yang akan terjadi diharapkan dapat menghasilkan output yang lebih produktif dan berkualitas serta efisien. Dalam konsepsinya, Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa merevitalisasi industri manufaktur nasional.

Ini lebih cepat dibandingkan evolusi perekonomian Indonesia dari yang sebelumnya mengandalkan sumber daya alam (migas dan pertambangan), menjadi ekonomi berbasis manufaktur yang memberikan nilai tambah tinggi.
Implementasi revolusi industri 4.0 di Indonesia diyakini oleh Airlangga Hartarto akan membawa pertumbuhan ekonomi nasional lebih bersifat inklusif. Sehingga dapat melibatkan seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali dan terbatas pada sektor mikro.

Pasalnya, era ekonomi digital juga menyasar pada sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Bahkan Airlangga Hartarto memprioritaskan UMKM dan IKM sebagai unit ekonomi terdepan yang akan berperan aktif dalam penerapan Making Indonesia 4.0.

Di samping itu, sesuai aspirasi Making Indonesia 4.0, kita akan mengembalikan kontribusi nilai ekspor sebesar 10% dari PDB nasional, ungkap Airlangga Hartarto. Selain itu, mewujudkan pembukaan lapangan kerja baru sebanyak 10 juta orang pada tahun 2030.

Selama ini, ekspor dari sektor industri memberikan kontribusi yang besar bagi perekonomian nasional.
Pada tahun 2017, industri menyumbang sebesar 74,10% dalam struktur ekspor Indonesia dengan nilai mencapai US$125,02 milyar, naik 13,14% dibanding 2016 sekitar US$109,76 milyar. Terkait dengan penggunaan teknologi berbasis digital, Airlangga menyebutkan implikasi positif dari hal tersebut adalah terbukanya kesempatan baru bagi anak bangsa untuk masuk dalam bidang digitalisasi.

Jika apa yang digagas Airlangga Hartarto berhasil, maka bukan hal mustahil pada 2030, Indonesia tidak hanya masuk dalam 10 besar ekonomi terkuat di dunia tetapi juga mampu menjadi mercusuar dunia seperti apa yang diharapkan para founding fathers.

Menurut Airlangga, dengan penggunaan teknologi berbasis internet, muncul permintaan jenis pekerjaan baru yang cukup banyak, seperti pengelola dan analis data digital, serta profesi yang dapat mengoperasikan teknologi robot untuk proses produksi di industri.

Terkait program yang akan digulirkannya roadmap Making Industry 4.0 sebagai strategi memasuki revolusi industri keempat, Menperin, Airlangga Hartarto telah mengusulkan kepada DPR RI untuk memberikan tambahan anggaran pada 2019 mendatang sebesar Rp 2,57 triliun.

Usulan itu sendiri disampaikan Airlangga Hartarto saat raker bersama dengan Komisi VI DPR RI Selasa pekan lalu. Anggota Komisi VI DPR RI, Fraksi Golkar, Eka Sastra menyebutkan bahwa Komisi VI telah meluluskan usulan tambahan anggaran yang disampaikan oleh Airlangga Hartarto.

Usulan tambahan anggaran tersebut diyakini Eka Sastra akan mempermulus implementasi Making Indonesia 4.0 yang dikomandoi Airlangga Hartarto. Kami telah menerima usulan Menperin, Bapak Airlangga Hartarto terkait dengan penambahan anggaran untuk implementasi Making Indonesia 4.0. Kami di Komisi VI DPR RI memberikan pertimbangan untuk meluluskan usulan kenaikan anggaran tersebut.

Menurut pendapat Eka Sastra karena sifatnya strategis untuk negara maka kami fikir ini perlu diprioritaskan. Namun dengan catatan Kemenperin optimalkan serapan anggaran 2018 sebesar 2,84 trilyun. Hingga nanti bisa berjalan maksimal program tahun mendatang.

Sumber

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *