Pelecehan Terhadap Via Vallen dari Sudut Pandang Pakar Komunikasi

Via Vallen (tribunnews)

epicentrum.id – Pedangdut Via Vallen muncul dengan pengakuan mengejutkan, yakni dilecehkan seorang pemain sepakbola terkenal via media sosial. Perlakuan yang diterima Via tergolong internet troll.

Pakar komunikasi digital Dr Firman Kurniawan Sujono menyebut pesan bernada mesum yang dikirim ke Via Vallen tergolong internet troll. Pesan tersebut juga tergolong internet seduction.

“Fenomena yang dibahas nampaknya mengarah pada apa yang disebut sebagai internet seduction. Bujuk rayu yang dikemukakan dengan diperantarai medium internet,” kata Firman saat berbincang, Rabu (6/6/2018).


Wujud internet troll, kata Firman, berupa kiriman pesan yang bertujuan membangkitkan tanggapan emosional ataupun kemarahan penerimanya. Tindakannya disebut trolling, yaitu sengaja mengirimkan pesan dengan mengabaikan aturan sopan santun, norma, dan kepantasan yang berlaku di masyarakat.

Firman menjelaskan trolling terjadi karena internet memberi kesempatan penggunanya tampil anonimous, sehingga identitasnya tersembunyi atau berkesempatan menggunakan identitas palsu. Internet, dia melanjutkan, memungkinkan terjadinya interaksi dengan pihak yang dikehendaki tanpa harus bertemu muka, tapi mampu real time dan mencapai hasil yang serupa dengan di dunia nyata, bahkan lebih efektif.

“Implikasi dari kedua keadaan di atas mengaburkan tanggung jawab pengguna seraya memberikan kekuatan untuk melipatgandakan keberanian menyatakan kehendak, termasuk kehendak yang tidak pantas disampaikan di dunia nyata,” ujar pengajar Program Pascasarjana Komunikasi Universitas Indonesia (UI) ini.

Dr Firman Kurniawan.
Dr Firman Kurniawan (Foto: Dok. Istimewa)

Di dunia nyata, masih kata Firman, mengeluarkan pernyataan yang tak sopan bisa mendapatkan reaksi langsung, berupa sanksi etis ataupun hukum. Sedangkan komunikasi yang diperantarai internet sering dipersepsi dapat menunda atau menghilangkan konsekuensi dari pihak yang merasa tidak nyaman. Jadi konsekuensi yang menyertai dipersepsi dapat diabaikan. Inilah yang memberi keberlipatan keberanian pengirim pesan untuk bertindak tidak sesuai dengan norma.

“Persoalannya, dalam urusan trolling ini, pihak yang tidak nyaman bisa melakukan capture dan menyebarluaskan kepada publik sebagai ekspresi ketidaknyamanan. Baik social media maupun instant messaging, bisa bertukar-tukaran capture ini rupanya konsekuensi yang harus harus diterima pihak yang mengirim pesan yang membuat pihak lain tidak nyaman,” ulas Firman.

“Celakanya sifat dasar medium internet adalah melipatgandakan kekuatan pesan. Nampak dari banyak kasus, konsekuensi yang harus diterima jauh lebih dahsyat dibanding mengirim pesan di dunia nyata. Dan banyak contoh perubahan akhirnya terjadi gara-gara tidak tahan menerima bully yang disampaikan banyak pihak yang turut tidak nyaman dengan suatu tindakan dan viral di social media,” imbuh pria yang juga mengajar di Universitas Atma Jaya.

Firman menambahkan keadaan yang dijabarkan di atas memenuhi konsep bahwa komunikasi yang diperantarai internet bersifat mass self communication: yaitu komunikasi dilakukan secara privat, antar-ruang yang dimiliki secara pribadi, tapi implikasinya bersifat massal. Hal ini, dia melanjutkan, harus dipelajari benar oleh pengguna internet.

“Sesungguhnya trolling cenderung dilakukan oleh orang dengan karakteristik tertentu: tidak percaya diri, takut menerima konsekuensi langsung, banyak merasa tidak puas dalam hidupnya. Namun akibat tidak adanya konsekuensi nyata yang diterima pelaku yang berkarakteristik spesifik ini, mengundang orang orang tak berkarakter pelaku trolling, turut tertular melakukan tindakan sejenis,” pungkas Firman.

sumber berita

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *