Survei: Sosok Bamsoet Perbaiki Citra DPR

Epicentrum.id – Berdasarkan survei Charta Politika, Bambang Soesatyo dianggap mampu memperbaiki citra DPR RI. Sejak ditetapkan sebagai orang nomor satu di lembaga legislatif pusat itu, politikus yang akrab disapa Bamsoet itu dinilai membawa banyak perubahan positif di DPR.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada 13-19 April 2018 menunjukkan, kepemimpinan Bamsoet mampu mengubah wajah DPR RI. Mereka lebih optimistis terhadap kinerja DPR di bawah pimpinan mantan ketua Komisi III DPR itu daripada saat dipimpin Setya Novanto.

Sebanyak 49,3 persen responden menyatakan optimis dengan Bamsoet. Sementara, mereka yang optimis dengan kepemimpinan Setya Novanto hanya 17 persen. Sisanya, 33,7 persen menjawab tidak tahu.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa Bamsoet berhasil mengubah wajah DPR dalam tempo kurang dari lima bulan.

“Survei dilakukan terhadap 2.000 responden dengan sebaran meliputi 34 provinsi dan 10 etnis dengan usia responden minimal 17 tahun, atau sudah memenuhi syarat untuk mendapatkan hak pilih,” kata Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya, dalam keterangan tertulis, Rabu, 23 Mei 2018.

Survei dilakukan secara tatap muka (face to face interview) dengan menggunakan kuesioner terstruktur (structured interview). Sampel responden dipilih secara acak (probablity sampling) dengan metode penarikan sampel acak bertingkat (multistage random sampling). Ada pun margin of error mencapai 2,19 persen.

Dihubungi terpisah, Bamsoet menganggap hasil survei tersebut sebagai bentuk kepercayaan masyarakat yang harus dijaga. Sejak resmi menggantikan Setya Novanto pada Rapat Paripurna 15  Januari 2018, Bamsoet hanya ingin melakukan pekerjaan sebaik-baiknya. Terutama mendorong lembaga yang dipimpinnya untuk jauh lebih keras dalam mendengar aspirasi masyarakat.

Selain itu, Bamsoet juga ingin beban legislasi lebih banyak yang diselesaikan. Tujuannya, produktivitas kinerja DPR bisa meningkat dibandingkan sebelumnya. Tidak seperti tahun lalu di mana DPR hanya bisa menyelesaikan 4 RUU secara kumulatif terbuka dari target 49 RUU yang masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2017.

Memang, Bamsoet mengakui, banyak faktor yang menjadi penyebab rendahnya kinerja legislasi tersebut. Di antaranya, kurang kuatnya komitmen salah satu pihak (DPR atau pemerintah) dalam menyelesaikan tahapan pembentukan UU yang telah direncanakan, lemahnya koordinasi antar-lembaga pembentuk UU, dan kurangnya pemahaman terhadap proses pembentukan UU.

“Mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa kita menghadapi citra DPR yang buruk karena kasus yang dialami Pak Setnov. Yang bisa kita lakukan untuk membenahinya adalah dengan bekerja lebih giat lagi. Terutama pada persoalan yang sedang menjadi perhatian masyarakat,” katanya. source

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *