‘Berburu’ TKA China di Morowali

Epicentrum – Perbincangan mengenai serbuan invasi TKA asal China di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah kian mencuat dalam beberapa waktu terakhir. Komisioner Ombudsman RI La Ode Ida mengungkapkan, penerbangan rute Jakarta-Kendari menjadi jalur utama kedatangan TKA China untuk menuju Morowali.

“Coba saja dengan penerbangan dinihari dari Jakarta ke Kendari. Itu penumpang mayoritas warga China. Mereka bekerja di pertambangan-pertambangan di Morowali,” katanya kepada kumparan, Kamis (3/5).

Isu TKA di Morowali makin hangat saat Partai Gerindra membuat sebuah sketsa parodi yang menyindir banyaknya tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia. Sketsa itu diperankan oleh politikus Gerindra yang juga merupakan artis seni peran Rachel Maryam.

Dalam sketsanya, Rachel menyebut bahwa berfoto dengan orang-orang luar negeri kini tidaklah sulit. Ternyata yang dimaksud adalah Tenaga Kerja Asing (TKA) yang bekerja di Indonesia.

 "Berburu" TKA China di Morowali

“Berburu” TKA China di Morowali (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)

Sindiran itu kian dipertegas dengan kalimat ,”Mau ke luar negeri? Ke Morowali saja! Jika anda berkunjung ke daerah di Sulawesi Tengah tersebut Anda seperti berada di Ghuangzhou…,”

Meminjam kalimat yang diunggah di akun Instagram Gerindra bahwa Morowali tak ubahnya seperti Guangzhou, China, yang terbayang tentu saja pemandangan lalu lalang orang-orang China di Kabupaten penghasil nikel tersebut.

Untuk membuktikannya, kumparan mendatangi secara langsung dua perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Morowali, yakni PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan PT Bintang Delapan Mineral (BDM). Keduanya berlokasi di Desa Fatufia, Kecamatan Badohopi, Morowali.

PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP)

PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). (Foto: Dok. imip.co.id)

Perjalanan ke Morowali ditempuh selama tujuh jam melalui jalur darat dari Kendari, Sulawesi Tenggara. Sehari sebelumnya, dalam penerbangan yang kami tempuh dari Jakarta ke Kendari Jumat (4/5), seperti yang dinyatakan La Ode, cukup banyak penumpang asal China di pesawat yang terbang pukul 03.00 WIB dari Bandara Soekarno-Hatta itu.

Mereka berjumlah belasan, dengan koper dan bagasi yang cukup banyak. Begitu tiba di Bandara Haluoleo, Kendari, mereka diarahkan oleh seseorang menuju ke sebuah mobil.

Berdasarkan penuturan Asisten Ombudsman Sulawesi Tenggara, Rudi, Kendari menjadi tempat transit para TKA asal China.

“Di Kendari transit saja. Mereka langsung menuju ke lokasi pertambangan. Ada yang ke Morosi dan Morowali,” ujar Rudi kepada kumparan.

Tiba di Desa Fatufia, Bahodopi, Morowali pada Sabtu (5/5), kami dikejutkan oleh pemandangan di sana yang amat berbeda dari bayangan. Alih-alih Ghuangzhou, yang terlihat hanyalah para pekerja lokal yang wara-wiri di sekitaran PT. IMIP dan PT. BDM. Tidak terlihat pekerja-pekerja asal Tiongkok yang berlalu-lalang di luar pabrik.

PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP)

PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)

Dua perusahaan besar itu berlokasi tidak jauh dari tepi pantai Desa Fatufia. Tidak jauh dari kawasan pertambangan, terdapat permukiman warga yang cukup ramai. Mulai dari pasar, penginapan, hingga tempat karaoke tersedia.

Pukul lima sore jadi waktu teramai di Fatufia karena merupakan pertukaran shift antarpekerja. Puluhan hingga ratusan pekerja lalu lalang dengan sepeda motor di sepanjang jalan antara pabrik dan pusat Desa Fatufia.

Kami kemudian berhasil mewawancarai salah seorang pekerja atau buruh lokal di PT. IMIP. Namun, karena keinginan yang bersangkutan, identitasnya kami samarkan.

Sebut saja namanya Zul. Ia merupakan pekerja asal Konawe, Sulawesi Tenggara. Bertempat di kontrakannya yang berukuran 3×4 meter, Zul bercerita tentang pekerjaannya di PT. IMIP termasuk soal simpang siur jumlah tenaga kerja asal China.

“Di luar ya enggak ada. Mereka (TKA) itu ada di dalam semua, kalau keluar harus pakai izin dan sudah ketat sekarang,” ucap Zul membuka perbincangan.

Ketika disinggung mengenai jumlah TKA asal China di Morowali yang menyentuh angka 3000-an orang, lelaki berusia 28 tahun ini meresponsnya dengan tertawa.

“Haha kali lima mungkin. Yang jelas bohong itu kalau 2000-an, banyak kok (TKA) di dalam bisa 8000-10.000 (orang),” timpal Zul.

Menurut Zul, jumlah tersebut tidak masuk akal karena di dalam pabrik sendiri disediakan mess dengan ukuran yang sangat besar untuk TKA.“Besar sekali itu. Mungkin bloknya dari A sampai H, dan itu satu mess ada sekitar 300 kamar, satu kamarnya diisi empat orang,” papar Zul.

Kondisi Mess TKA di PT IMIP

Kondisi Mess TKA di PT IMIP (Foto: dok. istimewa)

Zul mengungkapkan di dalam kawasan perusahaan sudah tersedia fasilitas yang sangat lengkap, sehingga para TKA tersebut tidak perlu pergi keluar kawasan perusahaan.

“Di dalam itu ada lapangan futsal, basket, gym, mini market, semuanya sudah lengkap lah, jadi ngapain mereka keluar. Tapi kalau untuk fasilitas itu kami juga boleh pakai,” tambah Zul.

Ia juga membenarkan bahwa banyak TKA tersebut yang merupakan tenaga kerja operasional sama seperti dirinya. Zul merupakan tenaga kerja di bagian operasional mesin.

“Banyak itu yang menggunakan helm kuning. Helm kuning itu untuk pekerja umum atau operasional,” papar Zul.

Tenaga Kerja Asing di Desa Fatufia, Morowali.

Tenaga Kerja Asing di Desa Fatufia, Morowali. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)

Zul menambahkan, jika tidak ada kebutuhan mendesak, para TKA asal China itu tidak diperbolehkan keluar dari kawasan PT IMIP. Hanya dua hingga tiga orang perwakilan dari mereka yang diberi keleluasaan untuk pergi keluar. Mereka disebut dengan jubir.

“Jadi ada yang namanya jubir. Mereka ini orang China juga tapi yang sudah lama tinggal di Indonesia. Jadi kalau teman-temannya ada yang butuh sesuatu mereka yang belikan,” jelas Zul.

Menurutnya, para Jubir ini sering terlihat di pasar pada akhir pekan. Hal itu dikarenakan, mereka membeli bahan-bahan makanan yang digunakan untuk kebutuhan kantin.

“Coba saja hari Minggu, biasanya mereka ada di pasar,” ucap Zul.

Pekerja Tenaga Asing di Pasar Bahodopi, Morowali

Pekerja Tenaga Asing di Pasar Bahodopi, Morowali (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)

Selama dua hari (5-6 Mei) penelusuran kami di Fatufia, kami tidak banyak menemui TKA asal China yang berseliweran di Morowali. Namun, berdasarkan saran dari Zul, kami coba mendatangi Pasar Fatufia pada Minggu (6/5) sekitar pukul 06.00 WITA.

Hasilnya kami berhasil mendapati tiga orang TKA asal China yang tengah berbelanja bahan-bahan makanan seperti sayuran. Bahan makanan yang dibeli cukup banyak sehingga mereka menggunakan sebuah mobil bak terbuka.

Menurut seorang pedagang setempat, TKA-TKA asal China itu memang kerap mendatangi pasar di akhir pekan.

“Iya, kalau Minggu pagi-pagi gini memang biasa ke pasar,” ucap Ruslan salah satu pedagang di Pasar Fatufia.

Jumlah TKA di Morowali

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Kabupaten Morowali, jumlah TKA di Morowali mencapai 3.113 orang.

Sementara itu, dikutip dari Antara, Manajemen PT IMIP mengungkapkan saat ini ada 2.145 TKA asal Tiongkok yang dipekerjakan di lingkungan IMIP. Dari jumlah itu sebanyak 1.851 sudah mengantongi IMTA (Izin Memperkejakan Tenaga Kerja Asing) dan sisanya sedang dalam proses.

Warga Asing diduga TKA di Bandara Haluoleo.

Warga Asing diduga TKA di Bandara Haluoleo. (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Morowali, Umar Rasyid, mengatakan pihaknya sudah menerima laporan tentang adanya TKA unskilled di Morowali.

“Kami memang temukan masih ada TKA yang bekerja di posisi yang semestinya orang-orang kita lah yang mengerjakan, jadi bukan tenaga ahli. Tapi ada beberapa hal yang kita lihat itu ada yang perlu dimaklumi, misalnya operator/sopir dump truck ya, itu sekarang perusahaan butuh sekitar 3.000-an, karena sebagian besar belum terpenuhi itu ada TKA yang ikut di sana jadi driver,” ujar Umar Rasyid.

Umar menambahkan, salah satu upaya yang dilakukan oleh Disnaker adalah melakukan pelatihan kepada para pekerja lokal.

“Untuk itu ya solusinya kami lakukan training untuk TKI yang masih belum mengoperasikan dump truck atau alat berat lainnya,” pungkas Umar.[Kumparan]

Sejumlah pekerja di Morowali, Sulawesi Tengah

Sejumlah pekerja di Morowali, Sulawesi Tengah (Foto: Iqbal Firdaus/kumparan)

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *