Prabowo, Kunci Peta Kekuatan Politik Pilpres 2019

Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra. (Reuters)

epicentrum.id – Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari menilai sosok Prabowo Subianto akan menjadi penentu peta kekuatan politik pada Pilpres 2019. Menurutnya, saat ini peta kekuatan Pilpres 2019 masih belum jelas menyusul belum ada kepastian Ketua Umum Partai Gerindra itu ikut berkompetisi.

Prabowo adalah calon presiden dari Partai Gerindra. Sesuai aturan presidential threshold sebesar 20 persen, maka Gerinda harus membentuk koalisi. Hingga kini belum ada satupun partai yang resmi menyatakan bergabung dengan Gerindra termasuk Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memiliki hubungan yang paling dekat.

“Jadi per hari ini kita semua sedang menunggu Prabowo subianto, kalau Prabowo sudah mengambil sikap saya kira kita akan mendapatkan peta politik yang jauh lebih jelas. Kita ini masih bingung, masih kacau ini karena Pk Prabowo tak kunjung pasti juga ini,” katanya di Hotel Harris, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Minggu (20/5/2018).

Qodari menilai jika Prabowo sudah resmi diusung partai koalisi menjadi calon presiden, maka kemungkinan pilpres diikuti tiga pasang terbuka lebar. Namun sebaliknya, imbuh dia, jika mantan menantu Soeharto itu tidak ikut pilpres, maka hampir dipastikan kontestasi demokrasi 2019 hanya diikuti dua pasang calon.

“Bisa dua bisa tiga, kembali pada pak Prabowo Subianto. Kuncinya di Prabowo, kalau Pak Prabowo tidak maju hampir dipastikan dua pasang, udah pasti dua pasang. Kalau pak Prabowo maju bisa dua partai bisa tiga partai,” tandasnya.

Terkait usia Prabowo yang tidak muda lagi, Qodari menyebut usia bukan menjadi landasan. Dia pun merujuk pada pemilu di Malaysia yang dimenangkan Mahathir Mohammad di usia 93 tahun.

“Lho jangan ngomong usia, age is only number. A specialy setelah Malaysia Election, kalau ada orang yang mengatakan ‘oh usianya sudah lanjut’ lihat Mahathir umur 93 tahun,” ujarnya.

Saat ditanyakan isu pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang selalu muncul mengiringi Prabowo, Qodari menilai tidak terlalu berpengaruh. Dugaan keterlibatan pelanggaran HAM pada 1998 pada mantan Komandan Jenderal Kopassus itu, dia memandang tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap perolehan suara.

Qodari berpandangan isu ekonomi dan kesejahtetaan sosial lebih berperan..

“Selama beberapa kali pilpres saya lihat, isu HAM itu bukan isu utama di masyarakat, isu utama itu korupsi, sembako BBM, itulah isu isu yang bisa menggoyang elektabilitas calon presiden, tapi kalau isu HAM belum, isu HAM masih kecil, yang konsen isu HAM itu masyarakat yang materialis, udah selesai itu urusan logistik,” pungkasnya. (frans)

 

sumber berita

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *