Atletico Menjawab Kebesaran Hati Marseille Dengan “Guard Of Honour”

 

Epicentrum.id, Lyon – Hanya karena Marseille gagal mengangkat trofi Liga Eropa musim ini, bukan berarti mereka kehilangan kehormatan. Itulah yang sejelas-jelasnya ditunjukkan oleh sang lawan paska berakhirnya laga final, Atletico Madrid.

Bertanding disalah satu kandang rival Domestiknya, yakni Olimpic Lyones , pada Kamis (17/5/2018) dini hari WIB, Atletico berhasil menaklukkan Marseille dengan tiga gol tanpa balas. Brace dari Antoine Griezmann, dan satu gol dicetak oleh sang kapten, Gabi. Ini menjadi ketiga kalinya Atletico merebut gelar juara di gelaran Liga Europa.

Begitu wasit Bjoern Kuipers meniup peluit tanda pertandingan berakhir, air mata tumpah di kubu Marseille. Itu belum termasuk Dimitri Payet yang sudah lebih dulu menangis akibat harus meninggalkan lapangan pada menit 32 karena cedera otot. Di pertandingan ini, Maxime Lopez masuk menggantikannya.

Kekalahan dan status sebagai runner up menjadi cerita yang dibawa pulang tim besutan Rudi Garcia ke Marseille. Kekalahan menjadi lebih menyakitkan karena di pertandingan ini mereka benar-benar gagal mencetak satu gol balasan pun.

Marseille menelan kekalahan dengan berbesar hati. Mereka merangkul lawan-lawannya yang keluar sebagai pemenang, memberikan ucapan selamat sesaat setelah berhasil menguasai emosi masing-masing.

Lantas, Atletico menjawab kebesaran hati Marseille dengan guard of honour.

Di atas lapangan bola, guard of honour menjadi alegori bagi sikap kesatria. Keberadaannya mengaburkan pandangan tentang kemegahan gengsi dan kekokohan persaingan yang jadi beban turun-temurun para pelakonnya.

Kegagahan para pemain yang berdiri membentuk jalan bagi tim lawan dan tepuk tangan yang mereka berikan mengalihkan cerita-cerita permusuhan yang jamak muncul, seiring gelinding bola dari satu lapangan ke lapangan lainnya.

Guard of honour adalah pagar yang tak hanya dibangun oleh deretan pemain yang berdiri tegak, tapi penghormatan kepada tim atau orang tertentu. Serupa dengan keputusan moral lainnya, tak ada peraturan tertulis atau kewajiban saklek perihalnya.

Pun dengan Liga Europa. Tak ada aturan bagi tim pemenang untuk memberikan guard of honour kepada lawan yang dikalahkannya. Atletico berhak merayakan kemenangan dengan sehebat-hebatnya. Karena setelak apa pun kemenangan ini, bukan berarti Atletico tak menemui terjal.

Di atas lapangan itu, pada menit-menit paling sakral, saat gelar juara dinikmati sekhidmat-khidmatnya, 93 menit terakhir yang tak mungkin kembali justru hadir seperti bayang-bayang yang gemar menguntit.

Barangkali seperti gulungan-gulungan film yang memutar kembali kesalahan kiper Marseille, Steve Mandanda, saat melancarkan operan kepada André-Frank Zambo Anguissa yang berada di tengah lapangan. Atau mungkin, ia memunculkan kembali adegan lemparan ke dalam Marseille di babak kedua yang justru membidani kelahiran gol kedua Atletico.

Semua detail dan rangkaian perayaan kemenangan Atletico hanya bisa diikuti Marseille dalam diam. Pada setiap fragmennya, kesalahan demi kesalahan di sepanjang laga terkelupas selapis demi selapis, lalu lindap dengan cepat dan membentuk sepunding pengertian tentang apa artinya melakoni pertandingan, tentang upaya mengukir sejarah.

Satu per satu penggawa Marseille bersiap dan berjalan demi menerima medali. Seremoni yang pada akhirnya semakin menegaskan bahwa Marseille menjadi pihak yang kalah. Apa boleh buat, remeh-temeh kompetisi memang pandai membungkus kekalahan.

Di menit-menit inilah, Atletico membentuk guard of honour untuk Marseille. Belum ada yang angkat bicara soal gesture ini. Namun, agaknya ia muncul bukan karena pemain Atletico tahu bahwa kekalahan bukan perkara yang sedap untuk ditanggung.

Guard of honour bukan perkara belas kasihan. Ini tentang penghormatan yang memang pantas diterima oleh siapa pun yang bertarung hingga akhir.

Di Parc Olympique Lyonnais, lewat tendangan demi tendangan, lewat penyelamatan demi penyelamatan, Marseille berpegang teguh pada hasrat untuk tak tunduk pada kekalahan. Maka, di hadapan sang juaralah Marseille mendapat tabik.

sumber : Kumparan.com

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *