Disaat Kedubes AS Pindah Ke Yerusalem, Maka Nama ” Trump” Pun Disematkan Pada Kesebelasan

 

 

Presiden Amerika Serikat saat ini, Donald Trump melakukan langkah berani. Mengesampingkan protes demi protes yang dilancarkan, Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Pengakuannya ini dipertegas dengan berdirinya Kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yerusalem meski mendapat tentangan luar biasa dari Dunia Internasional, bukan Mereka ( Negara Negara Islam/Arab ) saja yang memang merupakan antitesa dari rencana rencana besar Negeri Paman Sam saat ini.

Sontak, langkah Trump ini menyulut amarah dari sejumlah pihak, termasuk orang-orang Palestina. Sejumlah orang Palestina langsung bergerak untuk menembus batas negara pendudukan Israel, yang sudah pasti akan disambut dengan bentrokan antara orang-orang Palestina dengan tentara Israel.

Namun, ada satu pihak yang malah mendukung langkah Trump ini. Mereka adalah Beitar Jerusalem, kesebelasan sepak bola yang bermarkas di Jerusalem beserta Ultras La Familia, yaitu kelompok supporter fanatiknya yang terkenal rasialis kepada kelompok Arab dan Muslim . Di saat yang lain menolak, mengapa mereka begitu mendukung langkah Trump ini?

Sejak 100 tahun yang lalu, Beitar memegang ideologi anti-Arab. Pengejawantahan ataupun rasa persamaan ideologi ini tampak pada 2013 silam. Dua pemain asal Republik Chechnya, Dzhabrail Kadiev dan Zaur Sadaev, mendapatkan tindakan rasialis yang tak kunjung berhenti selama setengah musim membela Beitar.

Contoh yang paling diingat terjadi pada awal Maret 2013, saat Beitar bertanding melawan Maccabi Netanyal. Zaur, pemain Muslim Beitar, mendapat ejekan dan siulan usai mencetak gol ke gawang Netanyal. Beberapa menit kemudian, suporter Beitar malah meninggalkan stadion, padahal pertandingan belum selesai.

“Lieberman, bagaimana bisa kamu mendukungnya? Lieberman, mana pendirianmu?” ujar segelintir suporter Beitar, ditujukan untuk Avgidor Lieberman, Menteri Luar Negeri saat itu. Dia memang ikut bersuka cita ketika Zaur mencetak gol, menunjukkan bagaimana dia menjadi pihak yang memberikan restu manajemen Beitar untuk meminjam dua pemain Muslim dari Chechnya.

Presiden klub Beitar, Itzik Korenfine, juga tak luput dari sasaran kemarahan pendukung Beitar kala itu. Meski dia sudah mengungkapkan bahwa peminjaman dua pemain ini berdasarkan kebutuhan tim, para suporter tidak bisa menerima tim kesayangannya dibela oleh pemain Muslim.

“Beitar, tanpa diragukan lagi, merupakan garis keras dari pergerakan nasional orang-orang sayap kanan. Mereka mencintai negara ini (Israel), dan juga orang-orangnya. Mereka juga akan menjadi yang terdepan jika ada yang melawan pendirian mereka,” ungkap Lieberman, dilansir The Guardian.

Kelompok suporter Beitar, La Familia, memang tanpa ragu mendapuk diri sebagai kesebelasan rasialis di Israel. Aksi rasialis mereka ini, sebagian besar, ditujukan kepada orang-orang Arab dan kaum Muslim. Tidak hanya kepada pemain Beitar, La Familia juga tidak akan segan untuk melakukan tindakan rasis kepada pemain keturunan Arab atau Muslim yang membela Timnas Israel.

“Setiap saat mereka selalu mengatakan hal yang buruk terhadap (Nabi) Muhammad. Saya malu mendengar hal itu. Saya tak mau bertanding melawan kesebelasan mereka [Beitar]. Mereka selalu berusaha membunuh saya,” ujar Abbas Suan, pemain Timnas Israel keturunan Arab, ketika diwawancarai ESPNFC.

Lalu, mengapa Beitar ini begitu membenci orang Arab dan kaum Muslim? Kenapa Nasrani tidak (sesuai pengakuan Ofir Kriaf, gelandang Beitar)? Semua didasari pada rasa takut.

Dikelilingi oleh negara-negara Arab dan dihantui trauma tragedi Holocaust di masa Perang Dunia II, melahirkan ketakutan di benak para pendukung Beitar Jerusalem. Ketakutan akan penindasan yang dilakukan orang Arab, seperti yang dilakukan orang Jerman pada mereka (kebanyakan anggota La Familia adalah orang Yahudi) di Perang Dunia II, menjadi hantu yang sulit untuk dienyahkan hingga kini.

Rasa takut itu pun termanifestasi dalam tindakan-tindakan rasialis yang mereka lakukan kepada para pemain keturunan Arab dan Muslim di Beitar. Rasa takut juga mewujud dalam keteguhan mereka untuk menolak pemain Arab dan Muslim dalam tim.

Ketakutan ini perlahan mulai hilang seiring dengan datangnya Trump ke Yerusalem, lewat kedutaan besar yang dia bangun di sana. Beitar semakin tidak takut untuk menunjukkan eksistensi mereka lewat tindakan rasialis. Selain menjadi bentuk dukungan kepada Trump, mengganti nama menjadi Beitar Trump Jerusalem juga merupakan perwujudan dari rasa aman dan tenang. Pengakuan Amerika Serikat menjadi kekuatan politik baru yang menopang Beitar, setelah pemerintahan sayap kanan Israel menjadikan mereka sebagai partai bagi semua orang.

sumber : Kumparan.com

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *