Buruh Zaman Now di Era Industri 4.0

Oleh: Tauhidin Ananda*

Epicentrum.id – Ditengah hingar-bingarnya pemberitaan tentang Tenaga Kerja Asing (TKA) ilegal asal Tiongkok yang membanjiri dan merebut hak kerja para buruh dan tenaga lokal, ada hal yang tidak boleh terlupakan.  Generasi Buruh zaman now harus sadar bahwa mereka sudah berada di dalam era industri 4.0. Era yang lajunya sangat cepat ini, disadari atau tidak, bila tidak siap menghadapinya pasti hanya akan menjadi cerita di masa lalu.

Ilustrasi demo buruh (sumber: pinterpolitik.com)

Di tengah menurunnya daya beli kaum buruh dan pekerja karena harga-harga barang yang semakin mahal tidak sebanding dengan pendapatan yang diperolehnya setiap bulan. Ditambah lagi dengan rencana mekanisasi, robotisasi Industri di era industri 4.0, maka posisi buruh dan para pekerja  akan semakin  terpinggirkan bila tidak dapat mengantisipasi hal ini.

Kehadiran era baru revolusi industri jilid empat sedang berlangsung pada saat ini. Kita sedang berada didalamnya. Revolusi Industri 4.0 ini memang menjadi prokontra di tengah-tengah masyarakat. Sebagian masyarakat menilai segala hal berbau kemajuan teknologi, dalam hal ini kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di sektor industri merupakan sebuah keniscayaan, dan hal tersebut tidak dapat dibendung oleh siapapun di era global ini.

Sementara, di sisi lainnya, ada ketakutan bahwa revolusi industri 4.0 justru menjadi ancaman pengangguran massal di masa depan, dan ini memang wajar. Karena melalui otomatisasi dan robotisasi, jelas akan merenggut pekerjaan yang tadinya dilakukan oleh para buruh dan pekerja secara manual.

 

Perkembangan Industri

Segala hiruk-pikuk dan perdebatan terkait perubahan di bidang industri ini sebenarnya bukan suatu hal baru. Bila ditelusuri, hal ini sudah berlangsung sejak dimulainya revolusi industri sejak dua abad silam. Revolusi industri pertama, atau sekarang disebut era industri 1.0 dimulai pada abad ke-18, ditandai dengan penemuan mesin uap di Inggris. Pada era industri 1.0 ini tenaga manusia yang awalnya menjadi tumpuan utama perekonomian sebuah negara sedikit demi sedikit mulai tergantikan oleh mesin.

Struktur ekonomi pun bergeser. Ekonomi suatu negara yang tadinya didominasi sektor agraris/maritim pun kemudian ke sektor manufaktur. Munculnya kota-kota industri dan maraknya fenomena urbanisasi menjadi tanda pertumbuhan perekonomian yang signifikan di masa itu.

Lalu muncullah era industri 2.0 pada abad ke-19. Ditandai dengan kemunculan pembangkit listrik, dimulainya revolusi industri jilid dua. Penemuan revolusioner ini memicu pengembangan industri manufaktur secara masif, dengan munculnya sistem jalur perakitan (assembly line). Sistem ini menciptakan proses produksi transportasi secara massal.

Tidak berhenti disitu, revolusi industri kemudian berlanjut ke era berikutnya. Berlanjut ke generasi ketiga pada akhir abad ke-20, seiring dengan penggunaan internet yang mengubah cara masyarakat berbisnis dan berkomunikasi. Muncullah era industri 3.0.

Selanjutnya, internet yang semula hanya digunakan untuk mencari informasi dan berkirim pesan telah bertransformasi menjadi tempat segalanya, internet of things, self-driving car, dan robot. Era revolusi industri keempat kini sudah di depan mata kita.

Merupakan sebuah kewajaran ketika isu ketenagakerjaan kerap muncul di setiap tahap revolusi industri. Kehadiran mesin, digitalisasi dan robot secara signifikan akan mengurangi peran manusia di dalamnya.Para buruh dan pekerja milenial wajib bersiap menghadapi era revolusi industri 4.0. Kualitas dan kuantitas pekerja pun perlu ditingkatkan.

Pada industri 4.0 yang sedang berlangsung hari ini, yang terjadi adalah peningkatan dari industri 3.0. Peningkatan tersebut berupa  efisiensi yang terjadi karena adanya konektivitas antara manusia, mesin dengan internet. Dalam hal ini, efisiensi mesin dengan manusia, dan efisiensi mesin dengan mesin sudah terhubung oleh internet, hal ini menjadikan internet sebagai jaringan atau konektivitas  tempat melakukan segalanya, atau internet of things.

Di era industri 3.0 ada proses manufaktur yang menjadi hal utama dalam industri, sekarang di era industri 4.0, konsumen dengan produksi itu saling berinteraksi secara langsung menjadi hal utama. Perbedaan lainnya antara industri 3.0 dengan industri 4.0 adalah dari penggeraknya. Bila industri 3.0 digerakkan oleh keuntungan atau profit (profit oriented), maka industri  4.0 lebih didorong oleh harga.

 

Contoh Penerapan Industri 4.0

Sebagai contoh, industri perbankan adalah industri yang paling sering menghadapi isu ketenagakerjaan akibat kemajuan teknologi di era industri 4.0. Sebelumnya, kantor bank selalu padat oleh antrian nasabah untuk melakukan kegiatan perbankan.  Sekarang, nasabah cukup melakukannya di mesin ATM, atau melalui mobile banking lewat telepon selulernya, ataupun cukup di rumah saja duduk di depan laptop atau PC dan bertransaksi lewat internet banking. Segala hal tersebut membuat kebutuhan tenaga kerja jauh berkurang, tidak perlu lagi mempekerjakan banyak tenaga teller dan customer service.

Ilustrasi suasana kerja di pabrik (Foto: Okezone)

Contoh lainnya dapat dilihat di pabrik. Berdasarkan perhitungan matematis untuk menilai untung rugi, penggunaan robot dalam industri manufaktur memberikan dampak sangat signifikan terhadap efisiensi biaya. Robot isasi dan otomatisasi dapat membuat industri manufaktur broperasi selama 24 jam tanpa henti. Mereka tidak rewel, karena para pengusaha pusing dengan tuntutan buruh melalui serikat pekerja hyang kerap menuntut kesejahteraan, menuntut kenaikan biaya upah buruh setiap tahun. Mesin dan robot juga tidak berdemo atau melakukan protes, seperti yang kerap dilakukan pekerja. Hal ini jelas  memberikan dampak positif dengan meningkatnya produktivitas.

 

Tantangan Buruh Zaman Now

Di era industri 4.0, konsumen akan benar-benar menjadi raja. Konsumen akan menjadi pihak yang paling diuntungkan dari penggunaan robot. Dengan biaya produksi yang semakin efisien, maka beban harga yang harus dibayarkan konsumen untuk membeli barang pun akan semakin murah. Namun bagaimana dampaknya bagi pekerja?

Sebagai negara terpadat keempat dunia (setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat), denganmayoritas penduduk berusia muda, karena hampir separuhnya berusia di bawah 30 tahun, Indonesia sebenarnya memiliki kekuatan tenaga kerja yang sangat besar. Namun, kekuatan ini hanya akan muncul bila generasi milenial mampu mempergunakan kemajuan teknologi digital yang ada, guna menciptakan peluang kerjanya sendiri.

Menghadapi industri 4.0, semua pihak, baik pemerintah maupun para buruh harus bekerja keras dan saling bekerjasama. Upaya Pemerintah menghadapi era industri 4.0 melalui Roadmap Industri 4.0, yaitu Making Indonesia 4.0 yang baru beberapa waktu lalu diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

Presiden Joko Widodo dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat meluncurkan “Making Indonesia 4.0” yang merupakan roadmap atau peta jalan mengenai strategi Indonesia dalam implementasi memasuki Industri 4.0, di Cendrawasih Hall, Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Rabu (4/4/2018).(Foto: setkab.go.id Humas/Rahmat)

Para buruh dan tenaga kerja pun harus mengantisipasi dengan menambah kemampuannya. Kunci agar Indonesia maju terletak pada pembangunan SDM. Pembangunan SDM dengan meningkatkan kemampuan para buruh dan tenaga kerja penting untuk dilakukan. Dengan demikian, apabila kualitas SDM selalu diperbaharui, maka dapat menjadi modal kuat untuk bersaing dengan negara-negara maju lainnya di dunia.

Revolusi Industri 4.0 harus dihadapi dengan peningkatan kualitas SDM, dan juga revitalisasi manufaktur, yang akhirnya akan berpengaruh terhadap ekonomi nasional. Bila Indonesia dapat memanfaatkan digitalisasi di era industri 4.0 ini sebagai suatu kesempatan, maka dapat mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi.

Yang dapat dilakukan untuk bersaing di era industri 4.0 adalah dengan melakukan revitalisasi sektor manufaktur, termasuk didalamnya memperkuat para buruh dengan peningkatan kemampuan sehingga berdaya saing. Berbicara revitalisasi sektor industri atau manufaktur, yang kita bicarakan sebenarnya adalah ekonomi Indonesia secara keseluruhan.  Pada akhirnya,Semua faktor inilah nantinya akan menentukan, bahkan sektor manufaktur kita bisa membuat terobosan dan apakah produktivitas dari tenaga kerja kita nantinya setara dengan negara maju saat ini.

Pemerintah pun telah menyiapkan strategi untuk menghadapi era industri 4.0. Hal tersebut tertuang dalam 10 strategi prioritas nasional untuk making indinesia 4.0.

Untuk diketahui, industri manufaktur penopang utama ekonomi dengan kontribusi terbesar terhadap PDB (20,16% pada tahun 2017). Industri 4.0 dapat tingkatkan daya saing dan produktivitas industri manufaktur sehingga PDB bisa tumbuh di atas 5,5%. Pemerintah pun telah mempersiapkan sektor industri prioritas di era industri 4.0 ini.

Revolusi industri menuntut para buruh, para tenaga kerja di era zaman now ini untuk meningkatkan kapasitas untuk dapat mengikuti perkembangan industri 4.0 yang sangat cepat. Peningkatan kapasitas dapat dilakukan lewat pelatihan, kursus dan juga sertifikasi. Para pelaku industri harus ikut serta dalam upaya ini karena peningkatan kapasitas pekerja akan memberikan dampak positif terhadap industri tersebut.

Bila berbicara soal era industri 4.0, bila ingin memenangkan persaingan di era tersebut, jelas harus memperkuat kualitas sumber daya manusia  (SDM), buruh harus bersiap, baik bersiap secara mandiri dan juga melalui program-program yang disiapkan pemerintah. Karena bila tidak disiapkan, walaupun kita memiliki tenaga kerja yang besar, namun hanya akan menjadi penonton saja. []

*Tauhidin A, pegiat sosial

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *