BIN Berikan Wawasan dan Pengetahuan Bagi Intelijen Diplomat Muda

Epicentrum.id – Diplomat dan intelijen mempunyai kemiripan dalam melaksanakan tugasnya, yakni sama-sama pengumpul data untuk kepentingan nasional, di mana diplomat ditakdirkan menjadi mata dan telinga negara yang bertugas memantau perkembangan kondisi politik, ekonomi, hingga sosial budaya negara tempat mereka ditugaskan.

Terkait itu, diplomat dituntut harus mampu mengumpulkan data dan informasi yang kemudian diolah menjadi bahan masukan kepada para pemangku kepentingan di dalam negeri.

Dalam rangka meningkatkan kemampuan para Diplomat itulah, peserta Sekolah Dinas Staf Luar Negeri (Sesdilu) angkatan 60 menerima pencerahan dari Pejabat Badan Intelijen Negara (BIN) Sundawan Salya, sehingga para Diplomat Muda diharapkan lebih jeli dan peka dalam memahami situasi atau perkembangan kondisi lingkungan strategis tingkat global, regional, maupun domestik.

“Diplomat harus peka dalam mengamati perkembangan lingkungan strategis di tingkat global, regional, maupun domestik yang tengah terjadi. Hal itu menjadi bahan masukan dalam rangka merumuskan tindakan cegah dini, peringatan awal, dan tindakan preventif,” ujar Salya saat memberikan kuliah umum kepada peserta Sesdilu angkatan 60 di Jakarta, Senin (2/4/2018).

Menurutnya, dalam menjalankan tugas, diplomat juga dituntut untuk dapat menghindari analisa yang bersifat persepsi karena dapat menimbulkan multitafsir yang berpotensi melenceng dari informasi sebenarnya.

Keahlian semacam ini, kata dia, perlu ditingkatkan agar diplomat sebagai garda terdepan NKRI di luar negeri dapat merumuskan masukan dalam rangka deteksi dini dan peringatan awal.

Selain itu, hal tersebut juga akan menjadi referensi para pengambil keputusan dalam menentukan langkah pencegahan awal terhadap satu tantangan, hambatan, dan ancaman yang dapat mengganggu kepentingan nasional.

Beberapa aspek utama yang disorot oleh Salya dalam mendukung kinerja intelijen antara lain pengamanan dan teknik penggalangan informasi.

Menurutnya, perlu adanya upaya sinergis yang berkesinambungan dari berbagai pihak terkait, baik pemerintah maupun nonpemerintah, untuk mengatasi aneka isu strategis yang dihadapi Indonesia, baik di tataran domestik atau internasional, yang berkembang dengan cepat.

“Sejumlah tantangan dalam pelaksanaan misi diplomasi Indonesia menjadi tugas berat para diplomat kedepan. Munculnya fenomena lone-wolf pascatumbangnya ISIS sangat sulit dideteksi dengan sistem/alat intelijen konvensional. Untuk itulah peran diplomat diharapkan dapat memainkan peran strategis dalam menghadapi fenomena baru ini,” tandas Salya. [Sumber]

 

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *