Pak Habibie, R80, dan Bangkitnya Industri Dirgantara Indonesia

30726735_10155751632014332_7749005408764690432_n

 

 

 

 

 

 

 

Oleh: Aburizal Bakrie

Setiap pergi ke Jerman, salah satu tempat yang “wajib” saya tuju adalah rumah Pak BJ Habibie. Seperti kemarin, saya yang ditemani sahabat saya Fuad Hasan Masyhur, dan Lalu Mara, kembali bertamu ke rumah senior Partai Golkar dan Presiden Indonesia ke-3 ini.

Pak Habibie menyambut kami dengan Susana yang hangat dan ceria. Saya bersyukur, Alhamdulillah. Beliau sehat dan segar bugar.Ini menjawab kerisauan saya akibat beberapa waktu belakangan banyak broadcast yang masuk ke ponsel saya mengabarkan bahwa beliau sakit. Maka pertemuan dengan beliau hari itu menggugurkan kekhawatiran saya.

Di rumahnya di Munchen, Pak Habibe, mengatakan dirinya sehat walafiat dan mengatakan dirinya serasa terlahir kembali. Pak Habibie lalu mengajak kami makan malam di Waldwirtschaft Mawi sambil ngobrol-ngobrol.

30716096_10155749629709332_572817808287596544_n

Obrolan kami bukan saja soal kesehatan beliau, tapi juga kelanjutan Pesawat R80, pesawat rancangan beliau yang pendanaannya melibatkan sumbangan rakyat Indonesia (crowdfunding). Menarik sekali soal Pesawat R80 ini. Karena itu seusai berbincang dengan Pak Habibie saya langsung memposting di media sosial saya ajakan untuk mendukung R80.Mengapa kita harus mendukung Pesawat R80?

Untuk menjawab hal itu, kita perlu melihat sebuah perusahaan dirgantara nun jauh di Brazil sana yaitu Embraer. Perusahaan dirgantara Brazil yang didukung penuh pemerintahnya ini baru mulai dikembangkan sesudah PT Dirgantara Indonesia (DI) bisa membuat kapal terbang N235 dan N250. Tapi sekarang Embraer sudah maju pesat dan bahkan jadi saingan negara-negar maju dalam membuat pesawat, bukan saja pesawat komersial, tapi juga pesawat pribadi.

Siapa di balik berkembangnya Embraer?

30743517_10155749629784332_2540816821687156736_nTernyata mereka adalah insinyur-insinyur Indonesia yang dulu bekerja di PT DI. Seperti diketahui ribuan insinyur Indonesia kehilangan pekerjaan setelah PT DI “dimatikan” tahun 1997. Tenaga ahli Indonesia ini kemudian ditampung oleh Embraer untuk mengembangkan pesawat buatannya.

Tak hanya Brazil, sekarang, Malaysia tetangga kita pun, sudah mencanangkan akan menjadi pembuat pesawat termaju dan termodern. Mereka ternyata juga menggunakan insinyur-insinyur Indonesia yang sebelumnya bekerja di Embraer. Sebab saat tenaga lokal Brazil sudah bisa alih kemampuan, maka insinyur Indonesia kemudian banyak dipulangkan.

Kita sudah punya modal, industrinya kita lebih dahulu dari Brazil dan Malaysia. SDMnya ada, dan terbukti dipakai di Brazil dan Malaysia. Tapi yang tidak ada di kita adalah dukungan konkrit pemerintah Indonesia terhadap aerospace industry! Padahal pemerintah cukup menaruh dana 20%, serta berbagai kemudahan lain, kita akan menjadi salah satu negara aerospace industry yang termaju di dunia.

Bayangkan saja subcontractor lokalnya jumlahnya bisa ribuan. Lebih dari itu, yang terpenting, kemampuan engineering akan membuat suatu negara lebih cepat tumbuh dan berkembang. Bukankan kita ingin Indonesia menjadi negara maju?

Maka kita harus dukung Pak Habibie dan Pesawat R80. Saatnya pesawat buatan anak bangsa terbang di angkasa nusantara dan dunia.

Sumber: aburizalbakrie.id

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *