Resah dengan Manuver Politik Cak Imin, PDIP Ingatkan Agar Tidak Lebay

Cak Imin (sumber: sindonews)

Epicentrum.id – Setelah Partai Golkar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) juga mulai gerah dengan manuver politik Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin). Muhaimin diingatkan agar tidak berlebihan mempromosikan diri sebagai calon wakil presiden (cawapres) Joko Widodo.

Ketua DPP PDIP Aria Bima menilai manuver Cak Imin tampak menonjolkan syahwat politiknya untuk merebut kekuasaan. Meski begitu, ia tidak menampik bahwa semua parpol juga harus mempunyai kehendak subjektif untuk masuk dalam lingkaran kekuasaan.  Namun, cara-cara yang ditunjukkan Cak Imin dinilai terlalu berorientasi kekuasaan.

Terlebih lagi, Cak Imin belum memutuskan arah dan sikap politik partainya di antara calon presiden (capres).  Aria menilai Cak Imin tak hanya membidik posisi cawapres Jokowi, tapi namanya juga disandingkan dengan capres lain seperti Prabowo Subianto dan Gatot Nurmantyo. Menurut Aria, keinginan sebagai cawapres tidak ada yang salah. Namun ada etikanya. Cak Imin harus tahu bahwa pondasi dalam demokrasi adalah berbangsa dan bernegara.

“Yang penting Cak Imin jangan terlalu nampak lebih ke kekuasaan oriented saja,” kata Aria di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (18/4/2018). Menurut dia, seharusnya Cak Imin lebih mengedepankan wacana program atau berbicara soal kompleksitas persoalan bangsa saat ini. Apa dan bagaimana, itulah yang seharusnya ditawarkan Cak Imin jika terpilih sebagai cawapres pendamping Jokowi.

“Ini yang harusnya ditawarkan oleh Cak Imin, tidak sekadar keinginan PKB menawarkan diri jadi cawapres yang kalkulatif dan hanya sekadar dapat atau tidak kekuasaan itu,” katanya. Aria berharap PKB dan Cak Imin bicara soal substansi dalam berdemokrasi. Karena demokrasi ini adalah salah satu cara hidup berbangsa dan bernegara.  “Ini yang saya harapkan PKB dan Cak Imin lebih bicara yang substansi bahwa kekuasaan itu adalah jalan yang paling efektif untuk mengimplementasikan suatu ideologi,” paparnya.

Menurut dia, itu akan lebih baik ditonjolkan daripada sekadar ingin menang atau mengejar posisi cawapres. Kalah atau menang, bukan substansi yang harus dikedepankan sebab semua kontestan pasti ingin menang. Namun, untuk pendidikan politik bagi rakyat, parpol atau kontestan harus mengusung ide atau narasi besar untuk bangsa dengan kompleksitas masalah yang begitu besar.

“Tentunya satu hal yang paling penting adalah pondasi kebersamaan, persatuan, menjaga kesatuan adalah sesuatu yang harus disampaikan ke publik pada saat seorang kandidat itu ingin mencalonkan capres atau cawapres,” tegasnya.

Sebelumnya, politikus Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia mengatakan, dalam konteks political game, bagi Golkar apa yang dilakukan Cak Imin wajar dan biasa. Namun, cara berpolitik Cak Imin dengan mengumbar posisi cawapres dianggap vulgar dan hanya mempertontonkan syahwat politiknya.

Sikap Muhaimin yang terang-terangan ingin menjadi pendamping Jokowi di Pemilu 2019 serta memunculkan wacana capres dan cawapres Gatot Nurmantyo-Muhaimin Iskandar sudah bikin gerah dan dinilai sebagai bentuk bargaining position (posisi tawar) terhadap semua capres, terutama Jokowi.

”Sebagai partai politik yang sudah menyatakan pencalonan kembali Pak Jokowi sebagai Presiden untuk masa jabatan yang kedua, bersama Nasdem, Hanura, PPP, dan PDIP, kami tentu belum bisa mengambil sikap terhadap keinginan Muhaimin, terutama untuk menjadi cawapres Jokowi,” kata dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (17/4/2018). [frans]

 

sumber berita

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *