Cara Mengkritik Anak Tanpa Melukai Perasaannya

Epicentrum.id – Bagaimana mengkritik anak tanpa menyakiti harga dirinya? Pertanyaan banyak orangtua ini mungkin merupakan pertanyaan Anda juga. Khawatir menyakiti anak, akhirnya urung menyampaikan kritik.

Padahal kritik adalah salah satu cara untuk membentuk karakter dan sikap anak supaya lebih baik. Ada satu poin mendasar yang perlu diperhatikan orangtua dalam memberikan kritik, yaitu kritik difokuskan pada perbuatan, bukan sifat.

Dalam buku yang ditulis pendidik dan psikolog Najelaa Shihab: Keluarga Kita Mencintai dengan Lebih Baik, menyebutkan salah konsep pengasuhan anak, yakni ‘Disiplin Positif’.

Disiplin positif mencakup bagaimana cara baik mengkritik anak. Kritik yang baik adalah tanda dukungan orangtua yang dapat menjadi pengalaman belajar untuk anak.

Dari segi praktik, beberapa langkah memberi kritik pada anak berikut ini bisa Anda contoh:

1. Kritik hendaknya disampaikan secara spesifik pada kesalahan anak, bukan pada pribadinya. Misalnya, ucapkan kritik dengan nada positif: “Mainanmu berantakan”. Sebaliknya, hindari berkata: “Males banget, sih, kamu.”

2. Dalam menyampaikan kritik, dengarkan dan terima perasaan anak. Misalnya, “Setelah kecapekan main, berat, ya, masih harus merapikan mainan.”

3. Setelah memahami perasaan anak, selanjutnya, ungkapkan keinginan Anda, masih dengan kalimat bernada positif. Misalnya, gunakan kata “Seandainya …” atau “Ibu berharap…”

“Seandainya kamu merapikan mainanmu setiap habis main, pasti lebih gampang pas mau dipakai lagi.”

4. Kritik difokuskan pada perilaku dan situasi yang bisa diubah, bukan pribadinya.

Katakan: “Kita bisa cari dan pakai kotak sepatu bekas untuk menyimpan lego.”

Hindari: “Kamu selalu menghilangkan pasangan lego.”

5. Bantu anak memahami kesalahannya. Kesalahan harus diakui, bukan dihindari. Kesalahan bisa diperbaiki, bukan menetap selamanya. Kesalahan berguna untuk belajar, bukan merugikan.

Berikan contoh pada anak, misalnya pengalaman Anda sewaktu berbuat kesalahan, kemudian berhasil memperbaikinya.

Misalnya, “Ibu dulu juga sering berdebat dengan Budhe waktu mainan hilang. Terus kami gambar kotak mainannya. Karena bagus, jadi senang merapikan. Sekarang masih ada, tuh, mainannya yang disimpan.”

VIVA

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *