Modus Penjahat ‘Missed Call’ Untuk Raup Uang Banyak

epicentrum.id – Panggilan tidak terjawab dari nomor misterius kembali menghantui banyak pengguna telepon seluler di tanah air. Anehnya, nomor itu datang dari luar negeri meskipun tidak pernah merasa memiliki relasi atau keluarga yang menetap di luar negeri.

Belakangan terungkap bahwa nomor misterius yang melakukan missed call atau panggilan tak terjawab ini merupakan sebuah modus kejahatan lintas dunia. Mengapa lintas dunia? Karena kejahatan ini menggunakan modus nomor telepon asing untuk menjerat korbannya.

Kejahatan dengan modus missed call itu ternyata memiliki beberapa istilah di masyarakat dunia. Negara Jepang menyebut kejahatan panggilan tak terjawab itu dengan sebutan Wangiri. Sementara di Amerika dan beberapa negara Eropa mengenal kejahatan tersebut dengan sebutan One-Call Scam dan Call-Back Scam.

Pakar Digital Forensik Ruby Alamsyah mengatakan bahwa Call-Back Scam merupakan kejahatan dengan cara menipu korbannya. “Mereka (kelompok penjahat) akan terus menerus menebar panggilan telepon ke nomor-nomor korban yang didapatkannya secara acak,” jelas Ruby kepada JawaPos.com.

“Mereka akan memanfaatkan rasa ingin tahu si korbannya. Bila korban terpancing rasa ingin tahunya perihal nomor asing yang masuk ke call log korban. Spontan korban akan menelepon ulang nomor tersebut. Apa jadinya? Korban terjerat dan akan rugi,” sambung Ruby menjelaskan.

Dia menyebut kerugian yang akan diterima korban beragam. Mulai dari kehilangan uang dalam bentuk pulsa, data dalam bentuk nomor mereka tercuri, dan kemungkinan nomor korban akan tersebar di kalangan penjahat cyber menjadi lebih besar.

“Mereka bekerja dengan data, memanfaatkan tools atau alat untuk mencari nomor-nomor dari seluruh dunia untuk mereka jadikan korban. Tadinya sifat nomornya yang ada dalam data mereka mungkin saja tidak valid. Namun ketika di telepon, dan dijawab, maka nomor mereka akan masuk lebih dalam ke daftar nomor yang dibuat penjahat tadi. Pas, nomornya aktif dan mereka akan catat dalam database mereka,” terang Ruby.

Kejahatan Berkelompok

Ruby menjelaskan bahwa kejahatan Call-Back Scam atau Wangiri ini bukan sebuah kejahatan personal. Apalagi jika merujuk pada nomor asing yang digunakan untuk meneror pengguna ponsel di tanah air dalam waktu yang hampir berdekatan menimpa korban.

“Saya menduga ini adalah kejahatan yang dilakukan secara berkelompok, bukan perorangan. Lihat saja polanya, mereka mencari nomor dari seluruh dunia. Mendapatkan, kemudian melakukan panggilan satu persatu dari sekian banyak nomor. Apa mungkin sendirian?” jelas Pakar IT itu.

Menurutnya, moduk kejahatan dengan cara demikian sangat sulit apabila dilakukan secara sendirian atau personal. Sebab membutuhkan banyak pos untuk masing-masing tanggung jawab yang dilakukan pelaku.

“Si ini tugasnya mencari nomor. Kemudian yang ini melakukan validasi, kemudian yang lainnya menelepon hingga kepada pos terakhir yang mencairkan uang yang mereka terima karena panggilan masuk dari nomor korban yang terjerat. Jadi tidak mungkin kalau sendirian,” jelas Ruby.

Uang yang mereka dapatkan bisa masuk melalui berbagai skema. Sederhananya, korban yang terjerat panggilan tak terjawab itu akan diarahkan kepada layanan telepon premium. Mirip dengan layanan telepon yang dilakukan kebanyakan TV swasta yang membuat kuis dengan presenter wanita cantik nan seksi.

Pengguna akan mengeluarkan lebih banyak uang dalam bentuk pulsa atau tagihan telepon selama percakapan berlangsung. Hal tersebutlah yang dimanfaatkan kelompok penjahat missed call untuk meraup pundi-pundi uang yang tak sedikit.

Dari Mana Nomor Telepon Didapatkan?

Ruby menegaskan bahwa pengguna ponsel tanah air untuk tidak sembarang dalam meletakkan nomor mereka di internet. Seseorang tidak dengan mudah menuliskan nomor teleponnya di situs jual beli atau platform lainnya di internet.

Melalui hal tersebut, orang-orang yang punya niat jahat akan mudah menganalisis nomor tersebut lalu mengubah-ubah sedikit nomornya. Oleh karena itu, walaupun yang menuliskan nomor ponsel di internet hanya satu orang, jumlah korbannya pun akan berlipat ganda.

Mengapa demikian? Karena pelaku kejahatan akan menggunakan metode ‘probabilitas’ dalam meluncurkan aksinya. Nomor telepon yang sudah didapat dan didata tadi akan dipecah kembali dengan mengubah urutan-urutan angkanya saja.

Untuk itu, Ruby berpesan, sebaiknya siapapun tidak asal mencantumkan nomor teleponnya di internet karena bisa merugikan dirinya sendiri dan orang lain. “Jika sudah terjadi hal-hal yang merugikan baru deh nyalahin orang lain,” ucap Ruby.

Seperti diberitakan sebelumnya, sebagai seorang pakar saja dia mengaku pernah mengalaminya sendiri. Kejadiannya menimpa nomor ponselnya yang pernah ditulis pada akun jual beli, sosial media, dan lainnya.

“Namun tidak bagi nomor saya yang memang sengaja saya jaga baik-baik. Artinya apa, kita bisa mencegah sendiri sebenarnya. Dengan apa? Dengan tidak sembarang menaruh nomor telepon yang punya celah untuk diretas orang lain,” pungkas Ruby.

 

sumber berita

KOMENTAR

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *